![]() |
Orang aneh yang
terkadang suka labil tapi menurutku itu bukan labil, psikolog bilang bipolar.
Aku merasa seperti bahwa emosiku memiliki raga tersendiri namun masih merasuk
juga dalam diriku. Saya bisa bahagia luar biasa dan tiba-tiba depresi
menghampiri begitu saja menguasai pikiran ini. sesuatu bermunculan di kepalaku, bertanya
pada diri sendiri, masih pantaskah orang
sepertiku hidup dan punya teman?, atau apakah saya berada di tempat yang tidak
semestinya?
Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.
Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.
Hal yang sering aku takutkan adalah sangat takut akan
penyesalan, aku tahu hidup ini bukan tentang penyesalan. Secara sadar aku memang
merasa mengalami hal-hal buruk, merasa rendah, merasa iri, merasa kurang
bersukur, dan merasa hawa nafsu saya terlalu menguasai. Aku juga sadar bahwa ada nilai
lain lagi bahwa saya mampu menembus kemampuan saya, membuat sebuah perubahan,
membuat saya menunjukan kemampuan dan keunikan yang saya miliki. Tapi, saya
benci kenapa kesadaran itu sangat sulit saya eksekusi.
Lalu tanda tanyanya muncul kembali, seperti
seekor berang yang terbengong sendirian di tepi danau, apa yang salah dariku
atau apa yang tidak beres denganku? Semuanya tentang diriku sendiri, lagi, lagi
dan masuk lebih dalam lagi sampai aku merasa diriku terlalu dalam untuk masuk ke
dalam pikiranku, sampai susah menemukan celah cahaya dari sebuah pintu
untuk keluar.
Dan bagaimana dengan keluargaku? Aku rasa mereka tak punya pengaruh signifikan atas hidupku. Si bajingan itu hanya bangkai busuk yang bangga atas kemunculan lalat hijau sepertiku. Dan bunga biru yang luar biasa hebatnya menjadi seorang wanita yang lemah karena kelakuan bangkai tak tau diri itu. Wanita luar biasa bagiku, menghidupi empat biji benih sendirian dan ia sangat kuat tapi juga lemah. Lingkungan di sekitarku kadang memang sering tak mendukung untuku, seperti kesulitan menemukan teman. Teman dalam artian di sini adalah sahabat yang sebenarnya yaitu orang yang bisa dan benar-benar mengerti akan pola pikiran saya. Walaupun tak di pungkiri lagi saya selalu mencoba untuk akrab dan memahami teman namun selalu berujung pada dominasi teman yang lebih besar dan membuat keinginan dan tujuan saya sering menjadi kabur. Banyak teman bukan berarti banyak rezeki, terkadang itu malah menjadi pengecoh tujuan saya.
Kini aku menjadi patokan kekuatan dan menjadi tameng juga bilah panah yang dituntut untuk lincah dan gesit. Tapi aku juga terlalu sombong dan aku terlalu lemah.
Saya tau saya seorang introvert yang mana kesendirian adalah sebuah waktu yang luar biasa untuk memulihkan diri, mengembalikan kekuatan atau bahkan dari kesendirian itu adalah alat kekuatan besar yang tersembunyi yang masih tidur. Meski tak mudah membangkitkan kekuatan itu dan sudah barang tentu dan pasti bahwa membangunkan kekuatan besar yang sedang tidur dalam kesendirian di labirin ruang introvert adalah hal yang tidak mudah. Konsekuensinya adalah kesepian dan kesendirian yang kadang begitu hampa, kegelapan bisa saja menghampiri dan seberapa kuat kesabaranku juga keteguhanku untuk mempertahankan misi saya. Saya sangat yakin jika saya telah mampu melewati labirin gelap itu dengan membawa bekal hadiah dari sang mahluk berkekuatan yang besar dari ruang introvert, terang yang akan saya dapatkan dan keteguhan yang semakin kuat.
Dan bagaimana dengan keluargaku? Aku rasa mereka tak punya pengaruh signifikan atas hidupku. Si bajingan itu hanya bangkai busuk yang bangga atas kemunculan lalat hijau sepertiku. Dan bunga biru yang luar biasa hebatnya menjadi seorang wanita yang lemah karena kelakuan bangkai tak tau diri itu. Wanita luar biasa bagiku, menghidupi empat biji benih sendirian dan ia sangat kuat tapi juga lemah. Lingkungan di sekitarku kadang memang sering tak mendukung untuku, seperti kesulitan menemukan teman. Teman dalam artian di sini adalah sahabat yang sebenarnya yaitu orang yang bisa dan benar-benar mengerti akan pola pikiran saya. Walaupun tak di pungkiri lagi saya selalu mencoba untuk akrab dan memahami teman namun selalu berujung pada dominasi teman yang lebih besar dan membuat keinginan dan tujuan saya sering menjadi kabur. Banyak teman bukan berarti banyak rezeki, terkadang itu malah menjadi pengecoh tujuan saya.
Kini aku menjadi patokan kekuatan dan menjadi tameng juga bilah panah yang dituntut untuk lincah dan gesit. Tapi aku juga terlalu sombong dan aku terlalu lemah.
Saya tau saya seorang introvert yang mana kesendirian adalah sebuah waktu yang luar biasa untuk memulihkan diri, mengembalikan kekuatan atau bahkan dari kesendirian itu adalah alat kekuatan besar yang tersembunyi yang masih tidur. Meski tak mudah membangkitkan kekuatan itu dan sudah barang tentu dan pasti bahwa membangunkan kekuatan besar yang sedang tidur dalam kesendirian di labirin ruang introvert adalah hal yang tidak mudah. Konsekuensinya adalah kesepian dan kesendirian yang kadang begitu hampa, kegelapan bisa saja menghampiri dan seberapa kuat kesabaranku juga keteguhanku untuk mempertahankan misi saya. Saya sangat yakin jika saya telah mampu melewati labirin gelap itu dengan membawa bekal hadiah dari sang mahluk berkekuatan yang besar dari ruang introvert, terang yang akan saya dapatkan dan keteguhan yang semakin kuat.
Terkadang dysphoria
sering menghampiriku hingga rasanya kepalaku ingin aku ledakan saja. Saya sering memukul kepalaku dengan kepalan tanganku sendiri atau dengan bantal
lalu jungkir balik di kasur mencarut-marutkan tempat tidurku, lalu
terdengar suara tawa sinis bayanganku sendiri, yang satunya lagi
geleng-geleng seakan kecewa. sering juga terbesit ingin menggeblogkan
ah menjedotkan kepalaku ke tembok, tapi masih kurang berani, pasti itu lebih
sakit dan hanya menambah penderitaan saja.
Ah lemparkan saja
saya ke dunia lain, dunia yang melayang, dunia yang pernah aku alami seperti
dalam mimpi kala itu di malam hari. Dunia mimpi itu tanpa gravitasi, aku
melayang terbang ke udara bagai burung tapi dengan gerakan pelan bagai ikan
yang sedang berenang. Yah, itu dunia tanpa gravitasi, aku merasa begitu ringan.
Menari-nari bebas bagai cairan warna di dalam air putihbersih.
Aku sangat berharap
bahwa nantinya aku akan menemukan orang yang tepat yang bisa diajak bicara, bukan
sekedar teman hahahihi, bukan sekedar teman bersama ngomong ngalor ngidul, tapi
teman yang bisa jadi pendengar dan teman yang selalu membicarakan tentang
sebuah ide, pemikiran dan inovasi. Saya berpikir bahwa jodoh itu bukan hanya
tentang pasangan hidup seorang laki-laki dan perempuan tapi juga jodoh akan
pemikiran dan isi otak yang sama. Seperti kita tau pasangan suami istri yang
yang berjodoh akan harmonis dan langgeng alhasil mengahsilkan keturunan yang
saleh dan salekha. Tak jauh beda dengan jodoh yang satu ini, jika partner kita
berjodoh akan mewujudkan interaksi yang harmonis dan menghasilkan sebuah
karya-karya bahkan karya luar biasa yang mungkin belum ada sebelumnya.
Kadang saya memang skiptis akan sebuah keadaan dimana seorang
teman mendominasi obrolan yang membuat saya suka muak yang mana
pengetahuan mereka sebagian saya sudah tahu tapi ketika mereka berbicara seakan
bahwa mereka lebih tahu. Ah tempolong memang suka nyaring tapi dan sebuah padi
yang berisi akan tertunduk tenang. Kalo boleh saya katakan, seperti sebuah
kutippan psykolog bahwa pengetahuan yang banyak tanpa eksperimen bagai
titik-titik bintang atau pulau namun pengetahuan yang dibarengi dengan
eksperimen bagai titik-titik bintang atau pulau dan mencari jalan untuk
merangkai mereka dengan garis penghubung untuk berpikir bagaimana mencapainya.
Ah hidup saya terlalu ribed, tapi sampai saat ini saya masih percaya bahwa
ramalan itu akn terwujud atau aku sendiri yang harus mewujudkanya. Tentang
ksatria yang gagah berani yang berkuda dengan pedang dan tameng di kedua
tanganya
Komentar
Posting Komentar