
KERIKIL & RANTING
Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting patah yang jatuh di tanah,
bahwa mungkin saja mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan
Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka,
Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya tak jadi alasan terjatuhnya seseorang
Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang menjadikannya kuat
Tapi kau bilang kerikilmu berkata lain. Katanya, biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak berguna, kerikil yang belapis debu.
Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa.
Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak saya tahu tentang ibu mereka
Walaupun hujan turun mencoba memberiku isyarat yang dititipkan oleh kerikil tentang bahasa kerinduan yang ingin ditemukan. Namun sayang, butir hujan belum mampu menghapus debu yang membutakan kilaunya
Dan kau juga tahu bahwa nyanyian rintik hujan masih belum cukup untuk meluluhkan hati sang kerikil, hujan perlu bersekongkol dengan sang waktu, Sebab sekarang sang ruang bersama sang kerikil
Aku menyerah pada jejak langkah terakhir yang tak dapat kutemukan titik cahaya yang kau sebut kilau itu.
Kau meyakinkanku lagi, mungkin aku lupa bahwa sang jejak tak menyadari telah mengabaikan sang ranting patah yang sudah tak berdaya terdiam dalam kebisuan
Saksi nyata dalam kesaksian kehidupan yang barusan kulewati sedetik yang lalu.
Sampai pada akhirnya kau bilang,
Jejak dalam keresahan dan kebimbangan.
Jejak bingung dalam keletihan
Entah kemana jejak melangkah
Jejak kehilangan arah
Komentar
Posting Komentar