Langsung ke konten utama

kerikil & ranting





KERIKIL & RANTING


Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting patah yang jatuh di tanah,
bahwa  mungkin saja mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan

Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka,
Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya tak jadi alasan terjatuhnya seseorang
Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang menjadikannya kuat

Tapi kau bilang kerikilmu  berkata lain. Katanya,  biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak berguna, kerikil yang belapis debu.
Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa.

Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak saya tahu tentang ibu mereka

Walaupun hujan turun mencoba memberiku isyarat yang dititipkan oleh kerikil tentang bahasa kerinduan yang ingin ditemukan. Namun sayang, butir hujan belum mampu menghapus debu yang membutakan kilaunya

Dan kau juga tahu bahwa nyanyian rintik hujan masih belum cukup untuk meluluhkan hati sang kerikil, hujan perlu bersekongkol dengan sang waktu, Sebab sekarang sang ruang bersama sang kerikil

Aku menyerah pada jejak langkah terakhir yang tak dapat kutemukan titik cahaya yang kau sebut kilau itu.

Kau meyakinkanku lagi, mungkin aku lupa bahwa sang jejak tak menyadari telah mengabaikan sang ranting patah yang sudah tak berdaya terdiam dalam kebisuan
Saksi nyata dalam kesaksian kehidupan yang barusan kulewati sedetik yang lalu.

Sampai pada akhirnya kau bilang,
Jejak dalam keresahan dan kebimbangan.
Jejak bingung dalam keletihan
Entah kemana jejak melangkah
Jejak kehilangan arah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

gadis pukul empat

Gadis Pukul Empat   Raut wajahnya tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah dengan setelan muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya kini menjadi muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga pukul empat yang mekar di sore yang teduh,damai penuh keceriaan, kini soremu seperti malam di tengah gelap gulita, sunyi senyap. Walau akhirnya aku menyadari bahwa kau bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi alam yang berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku pada keburukan yang mencelakakanku.              Di sebuah stasiun yang ramai oleh para pengunjung, hilir mudik di peron-peron, di tangga eskalator, di pintu get in get out . Desir keras suara mesin kereta yang berlalu lalang, keras suara petugas kereta di pengeras suara, para petugas penjaga peron dengan seragam dongkernya bertopi putih sibuk den...

Si Makhluk Coklat di Atap Hutan

  Orang aneh yang terkadang suka labil tapi menurutku itu bukan labil, psikolog bilang bipolar. Aku merasa seperti bahwa emosiku memiliki raga tersendiri namun masih merasuk juga dalam diriku. Saya bisa bahagia luar biasa dan tiba-tiba depresi menghampiri begitu saja menguasai pikiran ini. sesuatu bermunculan di kepalaku,  bertanya pada diri sendiri,   masih pantaskah orang sepertiku hidup dan punya teman?, atau apakah saya berada di tempat yang tidak semestinya?  Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.  Hal yang sering a ku takutkan adalah sang...