Gadis Pukul Empat
Raut wajahnya
tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah dengan setelan
muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya kini menjadi
muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga pukul empat
yang mekar di sore yang teduh,damai penuh keceriaan, kini soremu seperti malam
di tengah gelap gulita, sunyi senyap. Walau akhirnya aku menyadari bahwa kau
bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi alam yang
berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku pada
keburukan yang mencelakakanku.
Di sebuah stasiun
yang ramai oleh para pengunjung, hilir mudik di peron-peron, di tangga
eskalator, di pintu get in get out. Desir keras suara mesin kereta yang berlalu lalang, keras suara petugas kereta di
pengeras suara, para petugas penjaga peron dengan seragam dongkernya bertopi
putih sibuk dengan tugasnya menambah sibuk suasana stasiun.
Aku terduduk sendirian di pojok peron di lantai dekat tembok berstop kontak, bersama laptopku asyik mengerjakan tugas sebagai penyendiri yang handal. Di keramaian stasiun aku senang merasa sendiri bahwa tak seorangpun yang aku kenal berada di dekatku untuk membicarakan sesuatu yang tidak aku harapkan. Kadang memang aku berkumpul dengan teman yang aku kenal, yang katanya temu kangen dalam satu meja bundar besar, bercengkrama namun sayang hal yang tidak aku suka sering datang, moodswing yang sering tiba-tiba datang, segala pembicaraan terasa menjadi tidak menarik atau kadang memang mengharapkan suatu topik yang lebih dari yang aku harapkan. Yang kadang jika diteruskan malah semua menjadi kacau, akhirnya di keramaian meja bundar dalam kebersamaan menjadi tak berarti. Aku merasa sepi dalam keramaian orang yang aku kenal.
Aku terduduk sendirian di pojok peron di lantai dekat tembok berstop kontak, bersama laptopku asyik mengerjakan tugas sebagai penyendiri yang handal. Di keramaian stasiun aku senang merasa sendiri bahwa tak seorangpun yang aku kenal berada di dekatku untuk membicarakan sesuatu yang tidak aku harapkan. Kadang memang aku berkumpul dengan teman yang aku kenal, yang katanya temu kangen dalam satu meja bundar besar, bercengkrama namun sayang hal yang tidak aku suka sering datang, moodswing yang sering tiba-tiba datang, segala pembicaraan terasa menjadi tidak menarik atau kadang memang mengharapkan suatu topik yang lebih dari yang aku harapkan. Yang kadang jika diteruskan malah semua menjadi kacau, akhirnya di keramaian meja bundar dalam kebersamaan menjadi tak berarti. Aku merasa sepi dalam keramaian orang yang aku kenal.
Itu mengapa aku
lebih senang berada di tengah keramaian orang-orang yang tidak aku kenal supaya
aku acuh dan bisa asyik dengan pikiranku sendiri.
Hari itu aku sengaja duduk di dekat stop kontak di stasiun agar aku bisa
mengecas laptopku jika sewaktu-waktu ia tak kuat lagi menemaniku. Sesekali satu dua orang menyapaku
yang kebetulan juga mengisi daya handphone mereka yang mau sekarat, atau orang slonong begitu saja seperti menganggapku seekor kucing yang sedang numpang tidur di
stasiun.
Aku begitu tenang
dengan kegiatanku, bersepi ria di tengah keramaian lalu lalang orang-orang, sampai akhirnya
seseorang datang duduk di sebelahku, aku menghiraukanya hanya sekilas saja memandang
sekelebat merah warna gaunya. Namun tiba-tiba ia menyapaku,
“hai, permisi internet di sini cepat yah?” katanya bertanya kepadaku sambil
melirik ke arah gawaiku .
“Oh saya tidak bermain internet” jawabku, aku pikir si gadis itu berpikir
bahwa aku sedang berinternetan dengan wifi stasiun bersama laptopku.
Ketika sesekali aku
menjawab pertanyaanya, tak sengaja aku mencuri pandang wajahnya yang cantik
jelita itu, aku langsung terkesima dan kagum. Betapa tidak gadis secantik
dia tak segan mengobrol denganku yang sedari tadi teracuhkan oleh ribuan orang
yang lewat di depanku, bibirnya merah merona, matanya berbinar terang, bergaun
merah dari kaki sampai keujung kepala dengan jilbab syarinya. Wangi parfumnya
khas gadis muda yang semerbak mengoyangkan bulu-bulu hidungku. Sebentar aku dan
dia mengobrol tentang jurusan kereta sang gadis. Aku masih berpura-pura asyik
dengan gawaiku padahal diam-diam aku curi pandang wajahnya yang tampak begitu
cantik. Aku seperti merasa nyaman dan mengapa seperti ada perasaan bahwa aku
dekat dengannya, aku ingin bertanya padanya namun sayang ia terburu pergi karena
keretanya telah datang. Walaupun sempat ku katakan untuk menunda barang
sebentar agar naik kereta berikutnya saja, namun aku tak punya kuasa untuk mencegahnya pergi.
Ketika ia telah naik
ke dalam kereta, aku masih memandangi sosoknya berjalan dari arah belakang
seakan gaun merah syarinya yang panjang melambai padaku, aku terlena
memandanginya, sampai pintu kereta tertutup lalu
pergi berjalan meninggalkanku sendiri, meninggalkanku bau parfumnya yang wangi
mawar dan delima.
Walaupun aku masih
merasa sosok gadis barusan jelas masih membekas, aku tetap paksakan diriku
untuk kembali ke laptopku lagi, kembali pada kegiatanku yang sedari tadi
terabaikan oleh gadis cantik itu. Namun belum lama ketika sedang asyik dengan
si layar besarku, aku merasakan keanehan pada diriku, seakan ada sesuatu yang
akan terjadi di depanku. Sesuatu yang wangi, aku ingin mendongak untuk melihat
sekitarku, tapi aku tak mampu melakukanya, aku tak ingin melewatkan momen
keharuman itu. Belum sepenuhnya aku memahami semerbak wangi tersebut, berganti
telingaku tersadar oleh debuk kaki yang berjalan terketuk-ketuk. Bukan ketukan
kaki-kaki pesibuk ria pengunjung stasiun, sosok yang aku yakini tak kalah
menariknya dengan bau wewangian tadi. Ketukan kaki yang merdu seperti senandung
gendang arab yang ditabuh dalam ruang orkes telingaku. Mataku
masih saja memaksa untuk segera mendongak mencari siapa gerangan si penggoda
itu. Sebelum kepalaku sempat kudongakkan indra perabaku lebih dulu menyerobot
penasaran dengan kehadiran sosok itu dengan sok mampu menebaknya begitupun bulu
di lenganku bagai rumput yang yang tertepa angin belenggok seperti menyambut
sesuatu yang melewatinya. Seakan semua indraku berlomba-lomba saling menebak
untuk mendapatkan jawaban, semerbak wangi, medan magnet di bulu kuduku,
hentakan kaki yang terasa semakin jelas keras mendekat. Hingga akhirnya suara
seorang wanita menyapaku, sontak semua indra yang berlomba itu berhenti
menegang karena mata ini yang paling beruntung.
Aku mendongak,
seorang wanita muda bergaun merah itu kembali berdiri di depanku. Ia tersenyum,
tak bertanya lagi dan tanpa berucap sedikitpun ia langsung duduk di sebelahku.
aku memandangi lagi gadis itu, masih seperti sebelumnya. Katanya menunda
perjalananya untuk menunggu ibunya dan itu menjadi kesempatanku bisa berbincang lebih lama lagi dengannya.
Berhari-hari aku
masih bertemu dengan gadis itu, entah kebetulan atau apa. Duduk di tempat yang
sama, ngobrol ngalor ngidul suka-suka. Sampai pada suatu hari frekuensi bertemu
dengan gadis itu berkurang, tak bertemu dengannya membuatku merasa rindu
sekaligus penasaran padanya, mungkin salahku berhari-hari bisa ngobrol denganya
tidak menanyakan tempat tinggalnya atau setidaknya sesuatu yang bisa dihubungi. Aku
terus mencoba untuk melakukan hal yang sama ketika waktu itu,
bermain laptop di dekat stop kontak sambil sesekali mengamati sekitar dengan
harapan bahwa gadis itu akan datang kembali lalu menyapaku.
Akan tetapi pertemuan
itu sepertinya hanya pertemuan kemarin yang sudah berlalu dan takkan terjadi lagi. Semakin
jelas sepertinya hari itu tidak ada tanda-tanda kedatanganya, sampai menjelang
sore pun tak nampak sosok
muncul di pelupuk mataku, tidak juga dengan aroma bunga yang semerbak, yang ada hanya kecut asam keringet orang-orang yang lalu lalang yang terbang bersama udara.
Setiap malam
menjelang tidur, terbayang wajah gadis begaun merah itu. Begadang hanya untuk memandangi
atap ternit yang menggambarkan senyum indahnya dan berharap bayang-bayang itu
berkata kepadaku bahwa besok kita akan bertemu.
Hingga pada suatu malam entah mengapa kejadian yang tidak menyenangkan
terjadi padaku, baru sebentar aku terlelap dalam tidur, aku terbangun oleh
sesosok makhluk yang sepertinya seorang wanita. Seluruh penampakanya berwarna
hitam, wajahnya tak terlihat jelas remang-remang tertutup rambut hitam yang
pekat dan kusut. Ia nampak menggodaku dari balik pungungku seperti membangunkan
secara manja, aku menoleh tiba-tiba saja dia menghilang. Sontak aku langsung
terbangun dari tidurku, hatiku menjadi kacau, jantungku berdetak lebih cepat tak berirama. Aku bisa
berulang kali membayangkan sosok itu, terlihat sangat nyata. Aku terbengong
dalam kemerindinganku di tengah malam.
Semenjak mimpi itu
hari-hariku menjadi semakin takku mengerti. Seperti pada kejadian saat sepulang
kuliah, aku sedang menunggu keretaku, sekilas aku melihat bayangan gadis itu
kembali, bukan bergaun merah tapi putih, rambutnya yang bergelombang tergerai
begitu saja membuatku bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan penampilanya itu
yang sangat kontras bertolak belakang dengan sebelumnya. Ia memandangiku namun
dengan raut wajah yang kosong. Matanya sayu, kedua tanganya memegang sebuah
ranjang kecil yang nampaknya berisi bunga. Sebagian bunganya
menyembul tergoyah-goyah oleh debur angin dari kereta yang melintas. Aku
terkesiap memandanginya, sampai-sampai aku membiarkan keretaku lewat begitu
saja dan sosok wanita itu juga menghilang.
Kini berganti aku
dibayangi sosok wanita bergaun putih, walaupun aku mencoba menghela semua
pikiran itu bahwa semua mungkin hanya bayang-bayang imajinasiku saja yang
terlalu berpikir jauh tentang gadis itu.
Untuk mengurangi
pikiranku yang kelam itu, pada hari minggu aku putuskan untuk pergi
ke car free day. Aku bangun pagi-pagi buta supaya pergi ke lokasi tidak terlalu siang berharap
bisa bertemu dengan sunrise. Kali ini saya tak sendiri, salah satu
teman saya bilang akan ikut. Sejak dari malam dia menghubungiku agar bisa
bertemu sekedar melepas rasa kangen. Dimana dulu kami sering menghabiskan waktu
bersama. Walaupun pada akhirnya dia malah membatalkan rencana tersebut dengan
alasan tak enak badan. Dengan rasa kecewa saya harus menerima semua atas
rencana pembelaan yang gagal itu. Rela-rela melepas sunriseku untuk menunggu orang satu itu. Walaupun tidak bertemu
sunrise aku tetap berangkat.
Setibanya di tempat,
suasana sudah sangat ramai dan cukup padat. Aku memulainya dengan berlarian
kecil-kecil bergabung dengan orang-orang. Tapi entah mengapa aku kembali pada suasana hatiku yang kelam. Sosok
bayangan gadis kembali muncul, bukan bergaun putih tapi oranye. Dia
memandangiku dengan mata kekosongan, kelam, dan suram. Di wajah pucatnya itu
terselip sekuntum bunga di salah satu sisi atas telinganya. Aku mencoba mengira-ngira
bunga kecil yang terselip di telinganya. Bunga yang sekilas sama yang ia bawa dengan ranjang
kecil ketika di stasiun. Dia berdiri di tengah keramaian orang-orang, aku
berhenti berlari terpaku untuk menatap matanya yang sayu. Aku tak paham mengapa
keadaan berubah sedemikian rupa, menyadari bahwa gadis tersebut sedang berada
di tengah-tengah keramaain orang-orang begitupun aku, seprti sebuah perhelatan
atau pesta rakyat, sebuah festival bunga dimana-mana memenuhi sekitaran gadis
itu dan diriku. Kini keramain car free day berubah menjadi sebuah festival bunga yang sangat meriah, dengan beraneka jenis bunga berwarna-warni, aneka jenis kreasi
benda yang berbentuk bunga yang didominasi oleh bunga yang sama yang terselip
di telinga gadis itu. Gerobak-gerobak penuh bunga, hula-hula rangkai bunga, becak bunga, kuda berbunga serta
delman dengan kusir yang lengkap berbaju serba-serbi bunga dan wangi semerbak
di mana-mana.
Kemudian segerombolan
orang-orang yang berjalan mengganggu pandanganku, aku mencoba tak terkecoh oleh
rombongan tersebut namun tetap saja ketika segerombolan orang-orang itu hilang
gadis itu juga ikut ilang lenyap bersama.
Aku terpelongo sendiri di tengah keramaian orang-orang yang berjoging
ria. Keadaan kembali seperti biasa, tak ada bunga, kereta bunga, becak, delman, kuda gerobak, semua menghilang yang ada
hanya gerobak es dan minuman, para badut, pengamen, dan manusia yang berlarian
kecil dengan topi kansasnya. Aku merasa bingung seperti alien yang baru saja
tiba di tengah-tengah keramaian kehidupan yang belum dikenal.
Aku putuskan untuk
kembali berlari kecil, sesekali berlari cepat menyalip orang-orang yang terlihat
malas-malas padahal mungkin lebih malas diriku.
Ingatanku masih terus dibayangi sosok barusan yang hilang muncul- hilang
muncul. Semakin kesini ingatanku semakin kuat, aku ingat bunga yang terselip di
telinganya, aku memahami wangi bunga itu, mungkin aku bisa melacak bau-bauan yang yang
akan ditemui. Mungkin pada para seniman jalanan yang sedang beraksi, barangkali
sang gadis menyamar menjadi salah satu dari mereka.
Badut Charly Caplin dengan muka bercat putih berkumis kecil, tak tercium bau bunga itu pada
bedak yang digunakanya berarti dia bukan sosok gadis yang aku cari. Kaki-kaki
telanjang si pemain ondel-ondel atau paling rajin memakai sandal jepit yang
memprihatinkan, tipis, buluk, dan berkeringat. Ah mana mungkin si gadis itu
bersembunyi di dalam ondel-ondel.
Walaupun car free day kali ini sempat mengecewakan karena aparat polisi kota menginformasikan
lewat pengeras suara dari mobil patrol mereka bahwa untuk sementara CFD minggu
ini ditiadakan. Ah saya tidak memperdulikanya dan kelihatnaya orang-orang pun demikian, mengabaikan perintah
polisi, duduk-duduk di pinggiran bunderan kolam sambil sebagian menjajakan
daganganya. Baru kali ini datang ke car free day sampai dibubarkan pada saat belum
waktunya karena tahun-tahun sebelumnya selalu ramai tidak semengecewakan.
Ketika sedang
berlarian kecil aku dibuat penasaran kembali oleh sebuah kerumunan. Orang-orang
nampak ramai menontoni sesuatu. Apa mungkin gadis misteriusku menjadi model di
sana? Entah lah! Setelah aku teliti ternyata seorang laki-laki yang sudah
berumur sedang melakukan sebuah demonstrasi, sebuah sulaman. Sulaman itu nampak
indah ada berbagai macam gambar; harimau, burung, ikan, pohon, dan yang membuat
aku tak menyangka yang sedang didemonstrasikanya adalah menyulam sebuah gambar
bunga. Bunga berwarna oranye yang barusan aku lihat terselip di telinga si
gadis misteriusku.
Si bapak penyulam itu
nampak lihai memainkan jarum sulamnya, membuatku ikut terlena manakala bunga
tersebut nampak semakin menarik seakan menebar bau wangi yang nyata. Kini aku
merasa seperti kehilangan diriku. Si bapak tua malah berganti menjadi gadis
bergaun oranye. Walaupun gadis tersebut tidak memperlihatkan wajahnya, aku
yakin dialah gadis misteriusku. Benda-benda di sekitarku seketika juga ikut berubah menjadi
sangat indah, ramai dengan kain-kain yang tergantung di tali-tali yang
membentang. Kain berwarna-warni seukuran sapu tangan bergambar aneka hasil
sulaman. Orang-orang nampak sangat menikmati suasana, duduk-duduk di sana-sini mendemonstrasikan
sulaman, tua muda, laki-laki perempuan, semua hanyut dalam acara tersebut. Di sisi
lain terdapat model-model yang sedang menari dengan anggun memakai baju hasil
sulaman dengan diiringi lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita. Aku terpaku
oleh gadis penyulam, mataku semakin sayu memandanginya bersama alunan lagu yang
merdu.
Bong,,,,,, tiba-tiba
aku tersedar manakala waktu berganti sebegitu cepat, si gadis penyulam itu menghilang entah kapan,
tertinggal diriku sendiri berdiri dalam bengongan. Menyadari bahwa keadaan tak
seindah dalam mimpi kilat tadi. Tak ada festival, tak ada gadis penyulam, tak
ada pula penari yang diiringi nyanyian yang ada bapak tua itu sedang
memanggil-manggilku.
Kembali aku merasa semakin
aneh, manakala orang-orang yang tadi berkerumun beramai-ramai kini telah
menghilang bubar entah kapan, semenetara aku berdiri sendirian dalam
kebingungan.
Dengan terpaksa karena
malu aku memutuskan untuk bergabung bersama bapak tua itu lalu duduk di
sebelahnya. Aku menyadari bahwa yang terjadi padaku barusan mungkin memang
hanya lamunan semataku, bayangan yang dibuat-buat atas diriku yang tidak mampu
menghilangkan sosok gadis misterius itu.
Setelah mengobrol panjang lebar dengan si bapak tua, atas gambar bunga yang ia rajut dalam kain yang masih
terjepit dalam pembidangnya itu. Kata bapak tua, motif bunga yang dirajutnya
namanya Bunga Pukul Empat atau biasa aku menyebutnya Bunga Esuk Sore. Sang bapak tua itu juga membawa
beberapa kuntum Bunga Pukul Empat di ranjangnya, karena hari masih pagi bunga masih terlihat mekar dan
segar. Aku ingin bertanya mengapa bapak tua itu menyulam bunga pukul empat
berwarna oranye. Sebelum aku sempat bertanya aku dibuat kagum dengan hasil
sulamanya yang lain. Ada sulaman bunga pukul empat berwarna merah, kuning, merah muda dan kombinasi dengan motif dan desain yang berbeda pula.
Kini aku malah menghabiskan
hariku di cfd bersama bapak tua itu hingga menjelang siang. Sampai akhirnya
bapak itu mengajakku untuk ikut pergi ke perpustakaan sebentar. Sebentar di perputakaan
berarti beberapa jam dan kami keluar hingga menjelang sore disambut langit
jingga yang mengiringi sang raja siang pulang ke peraduanya di langit timur.
Diiringi alunan
lagu senja yang mendayu ketentraman di langit timur, aku memberanikan diri
untuk menceritakan semua yang menggangu pikiranku selama ini, dari awal pertemuanku dengan si gadis bergaun merah di stasiun yang membuatku terus mengingatnya lalu hari-hari berikutnya aku malah merasa
menjadi aneh seakan hidupku selalu diikuti bayang-bayang gadis misterius yang suka
memakai bunga pukul empat di telinganya.
Namun entah apa yang
bapak tua itu pikirkan, tanpa memberi alasan yang pasti malah langsung
memberiku saran. Merasa senang karena diberi saran sekaligus bingung antara
percaya atau tidak. Bapak itu berkata bahwa aku harus tetap berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala keselamatanku, terhindar dari segala yang membahayakanku,
selanjutnya ia juga berkata sebaiknya aku menunggu kembali di stasiun pertama
bertemu. Sang bapak mengusulkanku untuk datang di hari Selasa siang menuju sore. Bagaimana dia bisa
memberi saran begitu cepat padaku dan siapa dia sebenarnya.
Tepat pada hari
selasa aku datangi kembali stasiun tempat dimana pertama kali aku bertemu,
tentunya dengan diiringi doa yang dipanjatkan di setiap sholatku.
Selama hampir dua jam lebih menunggu kedatangan gadis bergaun merah
ditemani laptopku di dekat tempat biasa aku duduk. Dengan hati yang risau dan tak sabar bisa segera bertemu
lagi denganya. Sampai menjelang sore aku merasa hampir putus asa, menunggu
tiada pasti. Kelihatanya masih tak ada tanda-tanda gadis bergaun merah, putih
atau oranye itu akan datang.
Aku mencoba tetap
bersabar menunggnya kembali, bermain dengan si layar lebarku berharap bisa
mengalihkan keresahan. Sekitar pukul empat kurang indraku serentak berkontraksi
seperti sebelumnya, mungkin semacam sinyal. Bulu hidungku menegang seakan udara
penuh dengan aroma bunga pukul empat, bulu kuduk berdiri layaknya rumput yang
menyambut sesuatu yang datang, telingaku kembali berdendang oleh suara kaki
yang berjalan begitu merdu sedang mendekat. Aku bisa merasakan aura itu kembali
datang kepadaku, aku yakin gadis misterius itu datang kembali. Ketika aku
mendongak memandangi sekitaran di depanku, dugaanku salah besar tidak ada gadis
itu, ia tidak datang yang ada hanyalah kehampaaan peron-peron stasiun satu dua
orang yang sedang menunggu kereta. Aku benar-benar merasa lelah dan kuputuskan
untuk menyudahi semua.
Ketika aku sedang
akan membereskan laptopku tanpa diduga sesosok wanita menyapaku, aku
mendongak lalu terpelongo. Gadis bergaun merah itu kini muncul di hadapanku,
bergaun oranye dan coklat berjilbab dan bermata biru sambil menenteng
sekaranjang kecil bunga.
Ia tersenyum lalu
menyapaku, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku, terlalu senang,
tak percaya dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kali ini aku harus memastikan
bahwa gadis itu tidak boleh lagi lepas begitu saja.
Kembali ia duduk di
sebelahku, aku semakin merasa tak sabar untuk mengatakan semua kepadanya. Mata
cerahnya berbinar, bibirnya yang merah segar membentuk garis senyum yang manis,
wajahnya segar sumringah bagai bunga pukul empat yang baru saja mekar. Aku masih belum mengerti
mengapa dia masih lebih memilih duduk di lantai sepertiku ketimbang di kursi
yang sudah di sediakan pihak stasiun.
Caranya berbicara mengingatkanku seperti tempo hari. Saat itu juga aku
hampir tak bisa lagi menahan apa yang ingin tanyakan, tak ingin menahan terlalu
lama takut sang waktu tak memberiku kesempatan. Namun sebelum aku berani untuk
menanyakannya lebih dulu, mataku tertuju pada keranjang kecil berisi aneka
bunga-bunga yang anehnya sebagian didominasi bunga pukul empat beraneka warna.
“Hei apa kabar” sapa sang gadis yang ada di depanku.
“oh hai juga, kau yang kemarin itu kah yang bergaun merah?”
“kamu masih mengingatnya?”
Aku yang setengah tak percaya bahwa gadis itu juga masih mengingatku
“kau membawa sekeranjang bunga?” kataku heran dan penasaran
“yah,,
“untuk apa?”
“untuk ibu dan adiku, kami sekeluarga sangat menyukai bunga pukul empat
bahkan nama ibu dan kami berdua diberi nama bunga ini”
“kalo boleh tahu dimana ibu dan adikmu?”
“di tempat yang mengagumkan, apa kamu ingin ikut?”
“kemana?”
“ke suatu tempat yang begitu damai penuh ketenangan”
Segera aku membereskan
laptopku yang sedari tadi tertunda terabaikan sejak kehadiran si gadis itu. Tak
lama aku dan dia menunggu kereta sesekali ngobrol sebentar, keretapun datang.
Kami berdua naik kereta
lalu turun di stasiun Kebayoran, dari sana disambung lagi dengan bajaj untuk menuju lokasi akhir.
Perjalanan tak lama bajaj berhenti di depan sebuah gapura. Gapura besar
bertuliskan Pemakaman Umum Jeruk Purut Kebayoran Lama.
Kamipun masuk ke
dalam komplek yang mencakup banyak kuburan yang tertata rapi, sepanjang
perjalanan aku tak berbicara apa-apa begitupun si gadis itu, semua menjadi
bisu. Aku bingung sekaligus
penasaran tapi tak sanggup bertanya kepadanya. Hingga akhirnya tiba di sebuah makam,
sebuah makam yang letaknya hampir di pojok komplek, kuburan itu nampak terawat
dengan baik berteduhkan sebuah pohon perdu yang cukup besar
menjadikan makam tersebut teduh dan betah untuk duduk berlama-lama di situ. Di
bawah pohon perdu tersebut juga terdapat sebuah tanaman yang sepertinya bunga
pukul empat beraneka warna.
Gadis itu duduk di salah satu sisi sebuah makam lalu menaruh bunga
yang dibawanya. Ia menaburkan bunga-bunga itu di dua buah kuburan. Terbaca
di batu nisannya yang satu bertuliskan wafat pada
19 0ktober 87 dan yang kedua pada 23 maret 1997 kedua kuburan
tersebut sepertinya perempuan.
Setelah cukup lama
memanjatkan doa tanpa suara hening begitu tenang, kedamaian yang nyata di
tempat itu. Gadis itu mulai berbicara dan menceritakan dua makam yang di
hadapanya itu. Satu adalah ibunya yang berpulang terlebih dahulu dan yang
satunya lagi adalah adiknya yaitu saudara kembarnya yang menyusul ibunya. Kedua
orang tersayangnya sama-sama meninggal dalam kecelakaan kereta kebayoran.
Ibunya meninggal dalam tragedi kecelakaan kereta Bintaro, kemudian adiknya meninggal dalam kecelakaan
kereta Kebayoran. Kematian adiknya cukup memilukan, pada saat itu dia sedang
dalam kasmaran jatuh cinta kepada seorang laki-laki dan ingin segera
melangsungkan pernikahan namun ayah menolaknya dengan alasan belum cukup umur
karena baru akan menginjak enam belas tahun. Pada saat Jingga dalam keadaan
suasana hati yang tidak stabil ia berlari dengan niat pergi ke pemakanan ibunya
naas pada saat dia meyebrang rel kereta tidak waspada tengok kanan kiri sebuah
kereta yang sedang melaju kencang merampas nyawanya dan tewas seketika itu
juga.
Pada saat itu setelah
mendengar cerita dari gadis tersebut aku memberanikan diri untuk menceritakan
hari-hariku ketika pertama kali bertemu denganya, tentang bayangan gadis
bergaun putih dengan rambut tergerai juga sosok wanita yang menghampiri
tidurku. Yang membuatku kaget adalah si gadis tersebut mengaku tidak pernah
menemuiku kembali pada hari setelah kali pertama bertemu begitupun hari-hari berikutnya atau
berpergian dengan gaun putih tanpa hijab.

Komentar
Posting Komentar