Langsung ke konten utama

gadis pukul empat




Gadis Pukul Empat


 Raut wajahnya tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah dengan setelan muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya kini menjadi muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga pukul empat yang mekar di sore yang teduh,damai penuh keceriaan, kini soremu seperti malam di tengah gelap gulita, sunyi senyap. Walau akhirnya aku menyadari bahwa kau bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi alam yang berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku pada keburukan yang mencelakakanku.
             Di sebuah stasiun yang ramai oleh para pengunjung, hilir mudik di peron-peron, di tangga eskalator, di pintu get in get out. Desir keras suara mesin kereta yang berlalu lalang, keras suara petugas kereta di pengeras suara, para petugas penjaga peron dengan seragam dongkernya bertopi putih sibuk dengan tugasnya menambah sibuk suasana stasiun.
 
           Aku terduduk sendirian di pojok peron di lantai dekat tembok berstop kontak, bersama laptopku asyik mengerjakan tugas sebagai penyendiri yang handal. Di keramaian stasiun aku senang merasa sendiri bahwa tak seorangpun yang aku kenal berada di dekatku untuk membicarakan sesuatu yang tidak aku harapkan. Kadang memang aku berkumpul dengan teman yang aku kenal, yang katanya temu kangen dalam satu meja bundar besar, bercengkrama namun sayang hal yang tidak aku suka sering datang, moodswing yang sering tiba-tiba datang, segala pembicaraan terasa menjadi tidak menarik atau kadang memang mengharapkan suatu topik yang lebih dari yang aku harapkan. Yang kadang jika diteruskan malah semua menjadi kacau, akhirnya di keramaian meja bundar dalam kebersamaan menjadi tak berarti. Aku merasa sepi dalam keramaian orang yang aku kenal.
             Itu mengapa aku lebih senang berada di tengah keramaian orang-orang yang tidak aku kenal supaya aku acuh dan bisa asyik dengan pikiranku sendiri.
Hari itu aku sengaja duduk di dekat stop kontak di stasiun agar aku bisa mengecas laptopku jika sewaktu-waktu ia tak kuat lagi menemaniku. Sesekali satu dua orang menyapaku yang kebetulan juga mengisi daya handphone mereka yang mau sekarat, atau orang slonong begitu saja seperti menganggapku seekor kucing yang sedang numpang tidur di stasiun.
            Aku begitu tenang dengan kegiatanku, bersepi ria di tengah keramaian lalu lalang orang-orang, sampai akhirnya seseorang datang duduk di sebelahku, aku menghiraukanya hanya sekilas saja memandang sekelebat merah warna gaunya. Namun tiba-tiba ia menyapaku,
“hai, permisi internet di sini cepat yah?” katanya bertanya kepadaku sambil melirik ke arah gawaiku .
“Oh saya tidak bermain internet” jawabku, aku pikir si gadis itu berpikir bahwa aku sedang berinternetan dengan wifi stasiun bersama laptopku.
            Ketika sesekali aku menjawab pertanyaanya, tak sengaja aku mencuri pandang wajahnya yang cantik jelita itu, aku langsung terkesima dan kagum.  Betapa tidak gadis secantik dia tak segan mengobrol denganku yang sedari tadi teracuhkan oleh ribuan orang yang lewat di depanku, bibirnya merah merona, matanya berbinar terang, bergaun merah dari kaki sampai keujung kepala dengan jilbab syarinya. Wangi parfumnya khas gadis muda yang semerbak mengoyangkan bulu-bulu hidungku. Sebentar aku dan dia mengobrol tentang jurusan kereta sang gadis. Aku masih berpura-pura asyik dengan gawaiku padahal diam-diam aku curi pandang wajahnya yang tampak begitu cantik. Aku seperti merasa nyaman dan mengapa seperti ada perasaan bahwa aku dekat dengannya, aku ingin bertanya padanya namun sayang ia terburu pergi karena keretanya telah datang. Walaupun sempat ku katakan untuk menunda barang sebentar agar naik kereta berikutnya saja, namun aku tak punya kuasa untuk mencegahnya pergi.
            Ketika ia telah naik ke dalam kereta, aku masih memandangi sosoknya berjalan dari arah belakang seakan gaun merah syarinya yang panjang melambai padaku, aku terlena memandanginya, sampai pintu kereta tertutup lalu pergi berjalan meninggalkanku sendiri, meninggalkanku bau parfumnya yang wangi mawar dan delima. 
            Walaupun aku masih merasa sosok gadis barusan jelas masih membekas, aku tetap paksakan diriku untuk kembali ke laptopku lagi, kembali pada kegiatanku yang sedari tadi terabaikan oleh gadis cantik itu. Namun belum lama ketika sedang asyik dengan si layar besarku, aku merasakan keanehan pada diriku, seakan ada sesuatu yang akan terjadi di depanku. Sesuatu yang wangi, aku ingin mendongak untuk melihat sekitarku, tapi aku tak mampu melakukanya, aku tak ingin melewatkan momen keharuman itu. Belum sepenuhnya aku memahami semerbak wangi tersebut, berganti telingaku tersadar oleh debuk kaki yang berjalan terketuk-ketuk. Bukan ketukan kaki-kaki pesibuk ria pengunjung stasiun, sosok yang aku yakini tak kalah menariknya dengan bau wewangian tadi. Ketukan kaki yang merdu seperti senandung gendang arab yang ditabuh dalam ruang orkes telingaku.         Mataku masih saja memaksa untuk segera mendongak mencari siapa gerangan si penggoda itu. Sebelum kepalaku sempat kudongakkan indra perabaku lebih dulu menyerobot penasaran dengan kehadiran sosok itu dengan sok mampu menebaknya begitupun bulu di lenganku bagai rumput yang yang tertepa angin belenggok seperti menyambut sesuatu yang melewatinya. Seakan semua indraku berlomba-lomba saling menebak untuk mendapatkan jawaban, semerbak wangi, medan magnet di bulu kuduku, hentakan kaki yang terasa semakin jelas keras mendekat. Hingga akhirnya suara seorang wanita menyapaku, sontak semua indra yang berlomba itu berhenti menegang karena mata ini yang paling beruntung.
             Aku mendongak, seorang wanita muda bergaun merah itu kembali berdiri di depanku. Ia tersenyum, tak bertanya lagi dan tanpa berucap sedikitpun ia langsung duduk di sebelahku. aku memandangi lagi gadis itu, masih seperti sebelumnya. Katanya menunda perjalananya  untuk menunggu ibunya dan itu menjadi kesempatanku bisa berbincang lebih lama lagi dengannya.
             Berhari-hari aku masih bertemu dengan gadis itu, entah kebetulan atau apa. Duduk di tempat yang sama, ngobrol ngalor ngidul suka-suka. Sampai pada suatu hari frekuensi bertemu dengan gadis itu berkurang, tak bertemu dengannya membuatku merasa rindu sekaligus penasaran padanya, mungkin salahku berhari-hari bisa ngobrol denganya tidak menanyakan tempat tinggalnya atau setidaknya sesuatu yang bisa dihubungi. Aku terus mencoba untuk  melakukan hal yang sama ketika waktu itu, bermain laptop di dekat stop kontak sambil sesekali mengamati sekitar dengan harapan bahwa gadis itu akan datang kembali lalu menyapaku.
            Akan tetapi pertemuan itu sepertinya hanya pertemuan kemarin yang sudah berlalu dan takkan terjadi lagi. Semakin jelas sepertinya hari itu tidak ada tanda-tanda kedatanganya, sampai menjelang sore pun tak nampak sosok muncul di pelupuk mataku, tidak juga dengan aroma bunga yang semerbak, yang ada hanya kecut asam keringet orang-orang yang lalu lalang yang terbang bersama udara.
            Setiap malam menjelang tidur, terbayang wajah gadis begaun merah itu. Begadang hanya untuk memandangi atap ternit yang menggambarkan senyum indahnya dan berharap bayang-bayang itu berkata kepadaku bahwa besok kita akan bertemu.
Hingga pada suatu malam entah mengapa kejadian yang tidak menyenangkan terjadi padaku, baru sebentar aku terlelap dalam tidur, aku terbangun oleh sesosok makhluk yang sepertinya seorang wanita. Seluruh penampakanya berwarna hitam, wajahnya tak terlihat jelas remang-remang tertutup rambut hitam yang pekat dan kusut. Ia nampak menggodaku dari balik pungungku seperti membangunkan secara manja, aku menoleh tiba-tiba saja dia menghilang. Sontak aku langsung terbangun dari tidurku, hatiku menjadi kacau, jantungku berdetak lebih cepat tak berirama. Aku bisa berulang kali membayangkan sosok itu, terlihat sangat nyata. Aku terbengong dalam kemerindinganku di tengah malam.
             Semenjak mimpi itu hari-hariku menjadi semakin takku mengerti. Seperti pada kejadian saat sepulang kuliah, aku sedang menunggu keretaku, sekilas aku melihat bayangan gadis itu kembali, bukan bergaun merah tapi putih, rambutnya yang bergelombang tergerai begitu saja membuatku bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan penampilanya itu yang sangat kontras bertolak belakang dengan sebelumnya. Ia memandangiku namun dengan raut wajah yang kosong. Matanya sayu, kedua tanganya memegang sebuah ranjang kecil yang nampaknya berisi  bunga. Sebagian bunganya menyembul tergoyah-goyah oleh debur angin dari kereta yang melintas. Aku terkesiap memandanginya, sampai-sampai aku membiarkan keretaku lewat begitu saja dan sosok wanita itu juga menghilang.
            Kini berganti aku dibayangi sosok wanita bergaun putih, walaupun aku mencoba menghela semua pikiran itu bahwa semua mungkin hanya bayang-bayang imajinasiku saja yang terlalu berpikir jauh tentang gadis itu.
            Untuk mengurangi pikiranku yang kelam itu, pada hari minggu aku putuskan untuk  pergi ke car free day. Aku bangun pagi-pagi buta supaya pergi ke lokasi tidak terlalu siang  berharap bisa bertemu dengan sunrise. Kali ini saya tak sendiri, salah satu teman saya bilang akan ikut. Sejak dari malam dia menghubungiku agar bisa bertemu sekedar melepas rasa kangen. Dimana dulu kami sering menghabiskan waktu bersama. Walaupun pada akhirnya dia malah membatalkan rencana tersebut dengan alasan tak enak badan. Dengan rasa kecewa saya harus menerima semua atas rencana pembelaan yang gagal itu. Rela-rela melepas sunriseku untuk menunggu orang satu itu. Walaupun tidak bertemu sunrise aku tetap berangkat.
            Setibanya di tempat, suasana sudah sangat ramai dan cukup padat. Aku memulainya dengan berlarian kecil-kecil bergabung dengan orang-orang. Tapi entah mengapa aku kembali pada suasana hatiku yang kelam. Sosok bayangan gadis kembali muncul, bukan bergaun putih tapi oranye. Dia memandangiku dengan mata kekosongan, kelam, dan suram. Di wajah pucatnya itu terselip sekuntum bunga di salah satu sisi atas telinganya. Aku mencoba mengira-ngira bunga kecil yang terselip di telinganya. Bunga yang sekilas sama yang ia bawa dengan ranjang kecil ketika di stasiun. Dia berdiri di tengah keramaian orang-orang, aku berhenti berlari terpaku untuk menatap matanya yang sayu. Aku tak paham mengapa keadaan berubah sedemikian rupa, menyadari bahwa gadis tersebut sedang berada di tengah-tengah keramaain orang-orang begitupun aku, seprti sebuah perhelatan atau pesta rakyat, sebuah festival bunga dimana-mana memenuhi sekitaran gadis itu dan diriku. Kini keramain car free day berubah menjadi sebuah festival bunga yang sangat meriah, dengan beraneka jenis bunga berwarna-warni, aneka jenis kreasi benda yang berbentuk bunga yang didominasi oleh bunga yang sama yang terselip di telinga gadis itu. Gerobak-gerobak penuh bunga, hula-hula rangkai bunga, becak bunga, kuda berbunga serta delman dengan kusir yang lengkap berbaju serba-serbi bunga dan wangi semerbak di mana-mana.
            Kemudian segerombolan orang-orang yang berjalan mengganggu pandanganku, aku mencoba tak terkecoh oleh rombongan tersebut namun tetap saja ketika segerombolan orang-orang itu hilang gadis itu juga ikut ilang lenyap bersama.
 Aku terpelongo sendiri di tengah keramaian orang-orang yang berjoging ria. Keadaan kembali seperti biasa, tak ada bunga, kereta bunga, becak, delman, kuda gerobak, semua menghilang yang ada hanya gerobak es dan minuman, para badut, pengamen, dan manusia yang berlarian kecil dengan topi kansasnya. Aku merasa bingung seperti alien yang baru saja tiba di tengah-tengah keramaian kehidupan yang belum dikenal.
            Aku putuskan untuk kembali berlari kecil, sesekali berlari cepat menyalip orang-orang yang terlihat malas-malas padahal mungkin lebih malas diriku. Ingatanku masih terus dibayangi sosok barusan yang hilang muncul- hilang muncul. Semakin kesini ingatanku semakin kuat, aku ingat bunga yang terselip di telinganya, aku memahami wangi bunga itu, mungkin aku bisa melacak bau-bauan yang yang akan ditemui. Mungkin pada para seniman jalanan yang sedang beraksi, barangkali sang gadis menyamar menjadi salah satu dari mereka.
 Badut Charly Caplin dengan muka bercat putih berkumis kecil, tak tercium bau bunga itu pada bedak yang digunakanya berarti dia bukan sosok gadis yang aku cari. Kaki-kaki telanjang si pemain ondel-ondel atau paling rajin memakai sandal jepit yang memprihatinkan, tipis, buluk, dan berkeringat. Ah mana mungkin si gadis itu bersembunyi di dalam ondel-ondel.
            Walaupun car free day kali ini sempat mengecewakan karena aparat polisi kota menginformasikan lewat pengeras suara dari mobil patrol mereka bahwa untuk sementara CFD minggu ini ditiadakan. Ah saya tidak memperdulikanya dan kelihatnaya orang-orang pun demikian, mengabaikan perintah polisi, duduk-duduk di pinggiran bunderan kolam sambil sebagian menjajakan daganganya. Baru kali ini datang ke car free day sampai dibubarkan pada saat belum waktunya karena tahun-tahun sebelumnya selalu ramai tidak semengecewakan.
            Ketika sedang berlarian kecil aku dibuat penasaran kembali oleh sebuah kerumunan. Orang-orang nampak ramai menontoni sesuatu. Apa mungkin gadis misteriusku menjadi model di sana? Entah lah! Setelah aku teliti ternyata seorang laki-laki yang sudah berumur sedang melakukan sebuah demonstrasi, sebuah sulaman. Sulaman itu nampak indah ada berbagai macam gambar; harimau, burung, ikan, pohon, dan yang membuat aku tak menyangka yang sedang didemonstrasikanya adalah menyulam sebuah gambar bunga. Bunga berwarna oranye yang barusan aku lihat terselip di telinga si gadis misteriusku.
            Si bapak penyulam itu nampak lihai memainkan jarum sulamnya, membuatku ikut terlena manakala bunga tersebut nampak semakin menarik seakan menebar bau wangi yang nyata. Kini aku merasa seperti kehilangan diriku. Si bapak tua malah berganti menjadi gadis bergaun oranye. Walaupun gadis tersebut tidak memperlihatkan wajahnya, aku yakin dialah gadis misteriusku. Benda-benda di sekitarku seketika juga ikut berubah menjadi sangat indah, ramai dengan kain-kain yang tergantung di tali-tali yang membentang. Kain berwarna-warni seukuran sapu tangan bergambar aneka hasil sulaman. Orang-orang nampak sangat menikmati suasana, duduk-duduk di sana-sini mendemonstrasikan sulaman, tua muda, laki-laki perempuan, semua hanyut dalam acara tersebut. Di sisi lain terdapat model-model yang sedang menari dengan anggun memakai baju hasil sulaman dengan diiringi lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita. Aku terpaku oleh gadis penyulam, mataku semakin sayu memandanginya bersama alunan lagu yang merdu.
            Bong,,,,,, tiba-tiba aku tersedar manakala waktu berganti sebegitu cepat, si gadis penyulam itu menghilang entah kapan, tertinggal diriku sendiri berdiri dalam bengongan. Menyadari bahwa keadaan tak seindah dalam mimpi kilat tadi. Tak ada festival, tak ada gadis penyulam, tak ada pula penari yang diiringi nyanyian yang ada bapak tua itu sedang memanggil-manggilku.
            Kembali aku merasa semakin aneh, manakala orang-orang yang tadi berkerumun beramai-ramai kini telah menghilang bubar entah kapan, semenetara aku berdiri sendirian dalam kebingungan.
            Dengan terpaksa karena malu aku memutuskan untuk bergabung bersama bapak tua itu lalu duduk di sebelahnya. Aku menyadari bahwa yang terjadi padaku barusan mungkin memang hanya lamunan semataku, bayangan yang dibuat-buat atas diriku yang tidak mampu menghilangkan sosok gadis misterius itu.
            Setelah mengobrol panjang lebar dengan si bapak tua, atas gambar bunga yang ia rajut dalam kain yang masih terjepit dalam pembidangnya itu. Kata bapak tua, motif bunga yang dirajutnya namanya Bunga Pukul Empat atau biasa aku menyebutnya Bunga Esuk Sore. Sang bapak tua itu juga membawa beberapa kuntum Bunga Pukul Empat di ranjangnya, karena hari masih pagi bunga masih terlihat mekar dan segar. Aku ingin bertanya mengapa bapak tua itu menyulam bunga pukul empat berwarna oranye. Sebelum aku sempat bertanya aku dibuat kagum dengan hasil sulamanya yang lain. Ada sulaman bunga pukul empat berwarna merah, kuning, merah muda dan kombinasi dengan motif dan desain yang berbeda pula.
            Kini aku malah menghabiskan hariku di cfd bersama bapak tua itu hingga menjelang siang. Sampai akhirnya bapak itu mengajakku untuk ikut pergi ke perpustakaan sebentar. Sebentar di perputakaan berarti beberapa jam dan kami keluar hingga menjelang sore disambut langit jingga yang mengiringi sang raja siang pulang ke peraduanya di langit timur.
            Diiringi alunan lagu senja yang mendayu ketentraman di langit timur, aku memberanikan diri untuk menceritakan semua yang menggangu pikiranku selama ini, dari awal pertemuanku dengan si gadis bergaun merah di stasiun yang membuatku terus mengingatnya  lalu hari-hari berikutnya aku malah merasa menjadi aneh seakan hidupku selalu diikuti bayang-bayang gadis misterius yang suka memakai bunga pukul empat di telinganya.
            Namun entah apa yang bapak tua itu pikirkan, tanpa memberi alasan yang pasti malah langsung memberiku saran. Merasa senang karena diberi saran sekaligus bingung antara percaya atau tidak. Bapak itu berkata bahwa aku harus tetap berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala keselamatanku, terhindar dari segala yang membahayakanku, selanjutnya ia juga berkata sebaiknya aku menunggu kembali di stasiun pertama bertemu. Sang bapak mengusulkanku untuk datang di hari Selasa siang menuju sore. Bagaimana dia bisa memberi saran begitu cepat padaku dan siapa dia sebenarnya.
            Tepat pada hari selasa aku datangi kembali stasiun tempat dimana pertama kali aku bertemu, tentunya dengan diiringi doa yang dipanjatkan di setiap sholatku.
Selama hampir dua jam lebih menunggu kedatangan gadis bergaun merah ditemani laptopku di dekat tempat biasa aku duduk. Dengan hati yang risau dan tak sabar bisa segera bertemu lagi denganya. Sampai menjelang sore aku merasa hampir putus asa, menunggu tiada pasti. Kelihatanya masih tak ada tanda-tanda gadis bergaun merah, putih atau oranye itu akan datang.
            Aku mencoba tetap bersabar menunggnya kembali, bermain dengan si layar lebarku berharap bisa mengalihkan keresahan. Sekitar pukul empat kurang indraku serentak berkontraksi seperti sebelumnya, mungkin semacam sinyal. Bulu hidungku menegang seakan udara penuh dengan aroma bunga pukul empat, bulu kuduk berdiri layaknya rumput yang menyambut sesuatu yang datang, telingaku kembali berdendang oleh suara kaki yang berjalan begitu merdu sedang mendekat. Aku bisa merasakan aura itu kembali datang kepadaku, aku yakin gadis misterius itu datang kembali. Ketika aku mendongak memandangi sekitaran di depanku, dugaanku salah besar tidak ada gadis itu, ia tidak datang yang ada hanyalah kehampaaan peron-peron stasiun satu dua orang yang sedang menunggu kereta. Aku benar-benar merasa lelah dan kuputuskan untuk menyudahi semua.
            Ketika aku sedang akan  membereskan laptopku tanpa diduga sesosok wanita menyapaku, aku mendongak lalu terpelongo. Gadis bergaun merah itu kini muncul di hadapanku, bergaun oranye dan coklat berjilbab dan bermata biru sambil menenteng sekaranjang kecil bunga.
            Ia tersenyum lalu menyapaku, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku, terlalu senang, tak percaya dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kali ini aku harus memastikan bahwa gadis itu tidak boleh lagi lepas begitu saja.
            Kembali ia duduk di sebelahku, aku semakin merasa tak sabar untuk mengatakan semua kepadanya. Mata cerahnya berbinar, bibirnya yang merah segar membentuk garis senyum yang manis, wajahnya segar sumringah bagai bunga pukul empat yang baru saja mekar. Aku masih belum mengerti mengapa dia masih lebih memilih duduk di lantai sepertiku ketimbang di kursi yang sudah di sediakan pihak stasiun.
Caranya berbicara mengingatkanku seperti tempo hari. Saat itu juga aku hampir tak bisa lagi menahan apa yang ingin tanyakan, tak ingin menahan terlalu lama takut sang waktu tak memberiku kesempatan. Namun sebelum aku berani untuk menanyakannya lebih dulu, mataku tertuju pada keranjang kecil berisi aneka bunga-bunga yang anehnya sebagian didominasi bunga pukul empat beraneka warna.
“Hei apa kabar” sapa sang gadis yang ada di depanku.
“oh hai juga, kau yang kemarin itu kah yang bergaun merah?”
“kamu masih mengingatnya?”
Aku yang setengah tak percaya bahwa gadis itu juga masih mengingatku
“kau membawa sekeranjang bunga?” kataku heran dan penasaran
“yah,,
“untuk apa?”
“untuk ibu dan adiku, kami sekeluarga sangat menyukai bunga pukul empat bahkan nama ibu dan kami berdua diberi nama bunga ini”
“kalo boleh tahu dimana ibu dan adikmu?”
“di tempat yang mengagumkan, apa kamu ingin ikut?”
“kemana?”
“ke suatu tempat yang begitu damai penuh ketenangan”
            Segera aku membereskan laptopku yang sedari tadi tertunda terabaikan sejak kehadiran si gadis itu. Tak lama aku dan dia menunggu kereta sesekali ngobrol sebentar, keretapun datang.
            Kami berdua naik kereta lalu turun di stasiun Kebayoran, dari sana disambung lagi dengan bajaj untuk menuju lokasi akhir. Perjalanan tak lama bajaj berhenti di depan sebuah gapura. Gapura besar bertuliskan Pemakaman Umum Jeruk Purut Kebayoran Lama.
            Kamipun masuk ke dalam komplek yang mencakup banyak kuburan yang tertata rapi, sepanjang perjalanan aku tak berbicara apa-apa begitupun si gadis itu, semua menjadi bisu. Aku bingung sekaligus penasaran tapi tak sanggup bertanya kepadanya. Hingga akhirnya tiba di sebuah makam, sebuah makam yang letaknya hampir di pojok komplek, kuburan itu nampak terawat dengan baik berteduhkan sebuah pohon perdu yang  cukup besar menjadikan makam tersebut teduh dan betah untuk duduk berlama-lama di situ. Di bawah pohon perdu tersebut juga terdapat sebuah tanaman yang sepertinya bunga pukul empat beraneka warna.
 Gadis itu duduk di salah satu sisi sebuah makam lalu menaruh bunga yang dibawanya. Ia menaburkan bunga-bunga itu di dua buah kuburan. Terbaca di  batu nisannya yang satu bertuliskan wafat pada 19  0ktober 87 dan yang kedua pada 23 maret 1997 kedua kuburan tersebut sepertinya perempuan.
            Setelah cukup lama memanjatkan doa tanpa suara hening begitu tenang, kedamaian yang nyata di tempat itu. Gadis itu mulai berbicara dan menceritakan dua makam yang di hadapanya itu. Satu adalah ibunya yang berpulang terlebih dahulu dan yang satunya lagi adalah adiknya yaitu saudara kembarnya yang menyusul ibunya. Kedua orang tersayangnya sama-sama meninggal dalam kecelakaan kereta kebayoran. Ibunya meninggal dalam tragedi kecelakaan kereta Bintaro, kemudian adiknya meninggal dalam kecelakaan kereta Kebayoran. Kematian adiknya cukup memilukan, pada saat itu dia sedang dalam kasmaran jatuh cinta kepada seorang laki-laki dan ingin segera melangsungkan pernikahan namun ayah menolaknya dengan alasan belum cukup umur karena baru akan menginjak enam belas tahun. Pada saat Jingga dalam keadaan suasana hati yang tidak stabil ia berlari dengan niat pergi ke pemakanan ibunya naas pada saat dia meyebrang rel kereta tidak waspada tengok kanan kiri sebuah kereta yang sedang melaju kencang merampas nyawanya dan tewas seketika itu juga.
            Pada saat itu setelah mendengar cerita dari gadis tersebut aku memberanikan diri untuk menceritakan hari-hariku ketika pertama kali bertemu denganya, tentang bayangan gadis bergaun putih dengan rambut tergerai juga sosok wanita yang menghampiri tidurku. Yang membuatku kaget adalah si gadis tersebut mengaku tidak pernah menemuiku kembali pada hari setelah kali pertama bertemu begitupun hari-hari berikutnya atau berpergian dengan gaun putih tanpa hijab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kerikil & ranting

KERIKIL & RANTING Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting patah yang jatuh di tanah, bahwa    mungkin saja mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka, Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya tak jadi alasan terjatuhnya seseorang Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang menjadikannya kuat Tapi kau bilang kerikilmu    berkata lain. Katanya,    biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak berguna, kerikil yang belapis debu. Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa. Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak say...

Si Makhluk Coklat di Atap Hutan

  Orang aneh yang terkadang suka labil tapi menurutku itu bukan labil, psikolog bilang bipolar. Aku merasa seperti bahwa emosiku memiliki raga tersendiri namun masih merasuk juga dalam diriku. Saya bisa bahagia luar biasa dan tiba-tiba depresi menghampiri begitu saja menguasai pikiran ini. sesuatu bermunculan di kepalaku,  bertanya pada diri sendiri,   masih pantaskah orang sepertiku hidup dan punya teman?, atau apakah saya berada di tempat yang tidak semestinya?  Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.  Hal yang sering a ku takutkan adalah sang...