Langsung ke konten utama

Balon Jingga






 Ketika itu aku menemukan sebuah  puisi tentang balon jingga. Aku teriingart tentang sahabatku, si makluk yang menyebalkan.

 Sebuah langit cerah dengan awan-awan putih bergumpal-gumpal di birunya langit.

 Puisi itu berbunyi:

Aku bermimpi tentang kita semalam
Bersama kita di taman ria
Melepas balon udara jingga tak bertuan
Dengan gembira kita tiupkan gelebung-gelembung udara untuk mengantar kepergianya
Namun, apa maksud kepergian balon udara jingga itu kita tak tahu
Aku juga tak tahu kenapa jingga segembira itu melepas kepergianya
Mungkinkah ia membawa serta kepedihan masing-masing dari kita?
Aku tak tahu
Tapi aku tahu aku ingat satu hal
Kau menggunakan baju berwarna senada dengan sang balon udara
Apakah itu artinya sang balon udara belum sepenuhnya membawa kepedihan hatimu


050908
Puisi tak bertuan
Puisi dalam buku karya Edi Warsadi.





 Selepas itu aku antara sadar dan tidak sadar, melepaskan diriku dalam sebuah lingkaran waktu, lingkaran tentang masa kala waktu itu di sebuah tempat. Aku masih sekolah dasar. Aku yakin ini labirin ruang dan waktu, di arah jam lima lima belas. Sebuah ruangan di pojok yang nampak paling tua. Di dalam ruanganyang nampak senyap, remang-remang dan lembab. Aku sedang mencari-cari dan membereskan buku-buku dan ketika aku sadar aku menemukan buku si punya jingga dan buku yang aku cari tidak aku temukan. Entah kenapa tanpa aku sadari kapan kesadaranku muncul ternyata aku tidak sendiri, makluk lain menghampiriku dan aku mengenalinya. Makhluk Biru. Ia tersenyum lebar memamerkan deretan gigi-giginya yang besar-besar layaknya baby tironosaurus. Aku bercakap-cakap denganya , tanpa aba-aba beberapa makhluk lainya ikut menimbrung. Mereka tak asing bagiku. Wajah-wajah membosankan yang diantaranya mendedikasikan dirinya sebagai makhluk terimut dengan bulu-bulu putih lebat yang halus dan dan gigi mungil dan suara yang manja. Satunya lagi makhluk terseksi dengan wajah tirus senyumnya mirip makhluk yang mengendarai pesawat piring nasi dari galaksi balneo, pecinta jenkol, singer sukses yang berduet dengan nenek gayung. satunya si kamuflase yang meronta-ronta butuh sandaran. Tapi entah mengapa aku merasa ada yang kurang. Si makluk itu tak nampak batang hidungnya.
 Aku melepas sebuah lelucon begitu saja bersama mereka, menggiring perutku keras membatu. Aku tertawa lepas, si makhluk pecinta jengkol terlihat sedikit bersembunyi di antara dua temannya, si makhluk manja berbulu putih dan si pengaum berbulu domba. Ia juga sedang tertawa, namun tawanya juga nampak kabur seperti menyembunyikan ikatan balon jingga yang belum ditiup. Layaknya satu makhluk yang aku cari, Si jingga.
 Aku masih saja belum bisa melihat si makhluk jingga itu bersamaku. Aku merindukannya. Walau kadang aku sering merasa jijik dan aku sering merasa ia sepertinya sering mengambil jatah tempat bagianku, tapi aku yakin dia memang pantas. Hal yang harus saya pikirkan adalah saat ini dia memang sedang membutuhkanya. permasalahan yang sedang ia alami mungkin lebih berat dari apa yang juga saya alami. Dia adalah sahabatku juga. Dia sudah menjadi bagian dari misi saya. saya butuh seseorang namun tak bisa menjadikan mereka sepenuhnya menjadi mau atas apa yang saya mau. Ada yang lebih butuh dari saya, saya harus menepi untuk bergantian dengan yang lain. Saya mengerti hukum yang satu ini, hukum yang saya percayai. kita tidak bisa memaksa diri untuk tetap berada di zona nyaman ada waktunya untuk kita untuk bergantian. kita harus melangkah walaupun berat meninggalkan tempat yang kita anggap adalah tempat nyaman kita. kita harus bergerak agar menjadi maju dan tidak jalan di tempat atau malah menjadi lumpuh di kandang nyaman sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kerikil & ranting

KERIKIL & RANTING Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting patah yang jatuh di tanah, bahwa    mungkin saja mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka, Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya tak jadi alasan terjatuhnya seseorang Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang menjadikannya kuat Tapi kau bilang kerikilmu    berkata lain. Katanya,    biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak berguna, kerikil yang belapis debu. Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa. Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak say...

gadis pukul empat

Gadis Pukul Empat   Raut wajahnya tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah dengan setelan muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya kini menjadi muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga pukul empat yang mekar di sore yang teduh,damai penuh keceriaan, kini soremu seperti malam di tengah gelap gulita, sunyi senyap. Walau akhirnya aku menyadari bahwa kau bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi alam yang berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku pada keburukan yang mencelakakanku.              Di sebuah stasiun yang ramai oleh para pengunjung, hilir mudik di peron-peron, di tangga eskalator, di pintu get in get out . Desir keras suara mesin kereta yang berlalu lalang, keras suara petugas kereta di pengeras suara, para petugas penjaga peron dengan seragam dongkernya bertopi putih sibuk den...

Si Makhluk Coklat di Atap Hutan

  Orang aneh yang terkadang suka labil tapi menurutku itu bukan labil, psikolog bilang bipolar. Aku merasa seperti bahwa emosiku memiliki raga tersendiri namun masih merasuk juga dalam diriku. Saya bisa bahagia luar biasa dan tiba-tiba depresi menghampiri begitu saja menguasai pikiran ini. sesuatu bermunculan di kepalaku,  bertanya pada diri sendiri,   masih pantaskah orang sepertiku hidup dan punya teman?, atau apakah saya berada di tempat yang tidak semestinya?  Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.  Hal yang sering a ku takutkan adalah sang...