Langsung ke konten utama

Niat Sang Elang





Niat Sang Elang

Aku tidak tau musti seperti apalagi, aku pernah bermimpi atau mungkin perasaan yang memang benar-benar nyata. 
 Aku adalah sang elang. Sejak dulu, sejak aku belum mengenal kalian. Ketika aku merasakan atau mungkin penglihatan lewat mimpi ini, aku adalah seekor elang dalam sangkar yang melihat betapa bahagianya bersama kalian. Tapi aku terbatas oleh jeruji sangkar. Ketika bersama kalian, aku seperti kehilangan jati diriku. Seperti elang yang kehilangan sayap dan berubah menjadi makhluk yang tak taHu tentang siapa dirinya. Aku melihat kalian dari balik jeruji. Entahlah itu jeruji apa, mungkin jeruji penjara atau jeruji-jeruji yang lainya dimana perasaan ini ketika bersama kalian aku seperti terkurung' dan hal itu membuatku merasa tak bisa tumbuh hanya melihat dan melihat. Berontakpun akan di anggap makhluk nakal yang jahat. Demi kebaikan aku harus menurut karena kebenaranya tak mudah dilihat. Kebenaranya ada dalam niatku, mengapa aku berontak, mengapa? Ah mereka tak perduli kalo aku berkata jujur yang berbelit.
 Pernah aku berkata jujur dengan gaya bicaraku, dengan nada suara yang mengebu-gebu bagai orang gila yang kesurupan, dengan serius  seringnya aku malah dianggap gila, tak waras, atau sedang mabuk. Ah dasar. Saya tak mau lagi menanam kepercayaan pada mereka terlalu dalam. Aku menyadari jeruji sangkar yang ada di hadapanku ini punya jalan keluar tepat di belakangku yang mudah aku lewati. Tapi entah mengapa aku ingin bersama mereka hanya sekedar bercengkrama dalam keterbatasanku di balik jeruji sangkar.  Aku putuskan hanya melihat kalian dengan keterbatasanku yang aku miliki. Dan aku tak menyesali itu, malahan aku bersyukur.


Apa sih kalian ini
Memaksaku untuk bersama kalian
Menganggapku sebagai orang yang pantas di pertemankan
Menjadikanku bahagia untuk menjadikan diriku orang lain
Kalian bahagia
 Dan ketika aku berontak ingin jadi diriku
Kalian anggap aku orang aneh bin gak waras
Dan jeruji itu muncul di hadapanku
Memisahkanku dengan kalian
Aku tahu, kalian tak menyadarinya
 Kalian terus memaksa
Lalu menarik orang lain sebagai subjek untuk kepuasan  
Kepuasan agar makhluk yang dipuja tetap berada di dekatmu
Ah aku bosan
Aku ingin terbang tinggi saja sendirian
Aku punya pintu di belakangku
Kalian akan membiarkanku untuk sementara
Dan kadang terus bertanya
Apakah diriku ini bakalan sembuh dari penyakit tak terdeteksi ini
Penyakit orang aneh
 Aahhhhhh aku emang aneh
Siapa diriku?
Aku tahu siapa diriku
Kalian tak mengerti

Saya tak mau memaksa kalian untuk mengerti

 Kalo ada pernyataan "selama kami tidak tuli kami akan mendengarkan",atau "lebih baik menulikan telinga kita dari suara-suara orang lain yang membuat kita akan menjadi lemah" karena kedua pernyataan itu dikatakan oleh satu sumber alias satu orang saya pikir itu adalah suatu pernyataan yang tidak saling mendukung malah terkesan satu sama lainya bisa bertolak belakang. Bagaimana kalo seseorang bisu atau membisu karena sesuatu hal? Jadi yang bisa di lakukan hanyalah bergerak dan bertingkah laku. Seperti saya sendiri terkadang merasa kecewa karena omgonganku yang menggebu-gebu itu dianggap seperti orang yang kesurupan, disaat itulah saya merasa kata-kata saya sudah tidak bermakna lagi. saat sudah seperti ini saya lebih memilih diam atau lebih melakukan mengandalkan bagaimana tingkah laku saya dengan harapan orang-orang bisa mengerti. Motonya  berubah menjadi lebih baik membisukan mulut ini daripada berbicara panjang lebar tapi bagai tempolong yang berbunyi nyaring berlalu bersama angin. Itulah sebenarnya perbedaan tapi perbedaan yang tidak bisa dikombinasikan. Dasar aku ini memang manusia aneh, mungkin aku yang terlalu kritis dan terlalu dalam untuk memaknai sebuah kata atau mereka memang tidak peduli dengan sebuah biji yang tumbuh kecambahnya. 
 Seperti pada sebuah contoh seperti yang saya berikan ini. Ada sebuah kejadian, sebuah buah diberikan kepada seorang petani namun buah yang tersedia adalah terbatas. Hanya ada dua pilihan. Karena mereka berada di daerah lokal mereka diberi pilihan. Satu buah impor dengan kondisi buah yang telihat sangat bagus, ukuran besar dan kulit yang bagus bersih  dan yang satu lagi buah lokal dengan kualitas standar lokal kulit buah yng tidak terlalu mulus ukuran standar. Kebanyakan orang akan memilih buah impor yang lebih bagus bentuk rupa luarnya dan akan menganak tirikan buah lokal. Padahal jelas-jelas jika buah lokal tentu saja akan lebih cocok jika ditanam di tanah sendiri,  yang impor belum tentu akan tumbuh atau malah tanpa biji. Satu petani mungkin berpikir lebih kepada bijinya bukan berpikir kepada tampilan buahnya karena tampilan saja tidak cukup. Dengan memilih bijinya berarti satu petani lebih berpikir jangka panjang yang akan terjadi. Bijinya kelak untuk ditanam agar nantinya tumbuh menjadi pohon berikutnya. Sementara yang satu lebih memilih bagus kulitnya tanpa pusing memikirkan bagaimana kedepanya akhirnya harapanya hanya sebentar sekali dapat habis makan daging buahnya , nihil bijinya , tidak ada harapan untuk mendapatkan buah berikutnya.
 Kesimpulanya banyak orang lebih suka yang simple yang tidak repot-repot yang juga tiidak memusingkan alias hidup sekarng yang penting bisa, tidak memikirkan pemikiran jangka panjang.ah katanya perbedaan adalah warna tapi saya seperti elang yang tumbuh bersama kawanan domba.
 Tapi walau bagaimanapun saya bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang itu, melihat ekpresi emosional mereka dan merasakan tebar aura yang mereka lepaskan membuatku merasa sedikit kenyang melahap hidangan itu. 
 Ahhhhh mari meregangkan urat nadi di leher kita yang sambunganya akan terputus di sisi kedua pelipis jidat kita   dengan lagu the sound of silent,


And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share
No one dare
Disturb the sound of silence

“Fools” said I, “You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you”
But my words like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence

Ah sudahlah intinya saya aneh bagi kehidupan tak bernilai ini, saya ingin terbang lebih tinggi jauh ke sana sendirian, jika nanti terjatuh paling tidak nanti tidak merepotkan yang lainya. I have a planning and I know where I will go. See you at top.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kerikil & ranting

KERIKIL & RANTING Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting patah yang jatuh di tanah, bahwa    mungkin saja mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka, Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya tak jadi alasan terjatuhnya seseorang Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang menjadikannya kuat Tapi kau bilang kerikilmu    berkata lain. Katanya,    biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak berguna, kerikil yang belapis debu. Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa. Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak say...

gadis pukul empat

Gadis Pukul Empat   Raut wajahnya tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah dengan setelan muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya kini menjadi muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga pukul empat yang mekar di sore yang teduh,damai penuh keceriaan, kini soremu seperti malam di tengah gelap gulita, sunyi senyap. Walau akhirnya aku menyadari bahwa kau bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi alam yang berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku pada keburukan yang mencelakakanku.              Di sebuah stasiun yang ramai oleh para pengunjung, hilir mudik di peron-peron, di tangga eskalator, di pintu get in get out . Desir keras suara mesin kereta yang berlalu lalang, keras suara petugas kereta di pengeras suara, para petugas penjaga peron dengan seragam dongkernya bertopi putih sibuk den...

Si Makhluk Coklat di Atap Hutan

  Orang aneh yang terkadang suka labil tapi menurutku itu bukan labil, psikolog bilang bipolar. Aku merasa seperti bahwa emosiku memiliki raga tersendiri namun masih merasuk juga dalam diriku. Saya bisa bahagia luar biasa dan tiba-tiba depresi menghampiri begitu saja menguasai pikiran ini. sesuatu bermunculan di kepalaku,  bertanya pada diri sendiri,   masih pantaskah orang sepertiku hidup dan punya teman?, atau apakah saya berada di tempat yang tidak semestinya?  Saya sering menyesali apa yang telah terjadi atau apa yanag telah saya ucapkan pada teman-temanku, alasanya adalah aku merasa bahwa mereka menjadi korban atas emosi saya. Memilih untuk tidak punya teman mungkin lebih baik agar mereka tidak menjadi sasaran atas bipolarku ini. Menggodog apa yang menjadi beban pikiran saya sendirian tanpa melibatkan orang lain, mengaduknya terus menerus walau aku tau seberapa kemampuan saya untuk menangani semua itu.  Hal yang sering a ku takutkan adalah sang...